Bahkan dalam mood yang sedang tidak ingin menulis. Tapi harus. Karena cuma ini satu-satunya pelampiasanku sebagai seorang introvert. Manusia memang makhluk social, bahkan yang mengaku tidak suka keramaian pun membutuhkan teman walaupun seorang. Bukan ini, yang ingin aku bicarakan, hari Ahad kemarin aku baru menyelesaikan novel yang baru aku baca, judulnya PUKAT; Serial Anak-anak Mamak. Novel yang bagus, bahkan kelenjar air mata ini pun tak terbendung ingin menumpahkan apa yang ada di dalamnya. Hmm…, aku ini termasuk orang yang cengeng!
Bukan novel itu yang ingin aku bahas, aku hanya ingin berbagi apa yang ada di salah satu paragraf novel tersebut.
“Jangan pernah membenci ibu kau, jangan sekali-kali…karena jika kau tau sedikit saja apa yang telah ia lakukan demi kalian, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian.” Ini perkataan Bapak yang bijak kepada anak-anaknya Eliana, Pukat, Burlian, dan Amelia.
I was wondering, is that true? How about…, ibu-ibu yang tega membungkus bayi merahnya di dalam kardus lantas membuangnya ke gunungan sampah? Ibu-ibu yang rela mengaborsi anaknya dengan memasukkan “mixer” versi dokter lantas melumatkan janin tersebut hingga hancur terus di keluarkan hasil “blender-an”janin tersebut? Atau ibu-ibu yang rela anaknya tumbuh tanpa figure seorang ayah? Seperti artis yang baru-baru ini melahirkan seorang bayi lalu di jadikan DUTA ANTI ABORSI??? Berarti kalo punya anak di luar nikah lantas tidak di aborsi, tidak apa-apa? Bukannya itu malah “menghalalkan” free sex?
Ah, aku bukan mau berkomentar soal itu. Walau ada sedikit, gatal rasanya mulut ini. J
Ya Allah, ampuni lubang pembuangan terkotor di dunia ini karena mengeluarkan gunjingan.
Mamak—di novel PUKAT—adalah sosok ibu sempurna, aku tidak berbicara ideal karena tidak ada yang ideal, kalo sempurna masih mungkin. (Tolong, jangan di bantah.). Ibu, Bunda, Mamak, Mama, Mami, Umi, Bu’e, apapun sebutan Anda bagi yang telah melahirkan kami—sebagai anak-anak Anda. Mungkin hanya aku—kaloyang lain gak mau mengaku atau gengsi mungkin—yang aku akui sering bermasalah dengan wanita yang melahirkanku. Aku kayanya setuju, oaring-orang yang sering punya masalah dengan orang lain tuh bukan karena perbedaan yang ada di antara mereka tapi persamaan-lah yang sering membuat masalah. Sama-sama keras kepala, sama-sama gengsi, sama-sama gak mau ngalah, sama-sama susah mengungkapkan rasa sayangnya, sama-sama canggung, sama-sama cengeng, sama-sama sama-sama, de el el.
Mungkin itu yang aku rasakan antara aku dengan ibuku, gak tau kalo kalian dengan ibu kalian.
Oh, IBU… Seandainya aku bisa dan kuat menanggung beban yang ada di pundakmu akan kupindahkan semua beban itu, sayangnya aku tidak bisa dan tidak kuat.... Seandainya, kau mau berbagi betapa pahit gula yang kau minum biarlah aku yang menengguknya, sayangnya—aku yakin—kau tak akan membiarkan anakmu keracunan.
IBU, jika kau sebutkan harga yang harus dibayar untuk air susu-mu, yang paling berharga yang kupunya—nyawa—ini bahkan tak bisa untuk membayar semua pengorbananmu.
IBU, kau benar-benar pahlawan tanpa tanda jasa untuk anak-anak sepertiku, seperti Pukat, Burlian, Eliana, Amelia, seperti yang lain yang mempunyai seorang ibu NORMAL. Tapi, aku sungguh tak tahu apa definisimu untuk anak-anak yang di buang olehmu, bagi bayi merah yang telantarkan, bagi remaja yang tidak mengenal ayahnya, selau bertanya apakah ada mata air seperti di film Kera Sakti yang jika meminumnya maka bisa hamil tanpa bantuan sperma, atau untuk anak gadis yang telah di jual olehmu kepada Tuan-tuan dari Arab sana.
Ibu yang hebat, yang rela waktunya di habiskan untuk menyuapi kami, membersihkan kotoran kami, membasuh pipis kami, menjemur kasur kami karena ompol, mencuci bekas muntah kami, mengajari kami untuk salim setiap bertemu dengan bapak, mbah, pakde, bude, om, bulek, guru. Semoga Allah memberkahimu di sisa umurmu. Semoga anak-anak yang telah kau lahirkan bisa berbakti kepadamu walupun semua bakti anak kepadamu tidak bisa memabalas apa-apa yang telah kau korbankan. Semoga harapan-harapanmu terhadap anak-anakmu dapat terkabul, harapan agar mereka sukses, agar mereka mempunyai keluarga yang bahagia serta penuh keberkahan dan keridhoan Allah, agar mereka mempunyai suami/istri yang mencintai mereka apa adanya. Semoga Allah mengizinkanmu beribadah di Tanah Suci-Nya entah melalui anak-anakmu atau mungkin Allah mempunyai jalan lain. Kita tak pernah tahu, ya kan Bu?
Semoga Allah memasukkanmu ke tamanNya yang indah sehingga kau bisa bertemu dengan Maryam binti Imran, dengan Khadijah r.a., dengan si cantik ‘Aisyah r.a. juga dengan kekasihNya, Muhammad SAW.
Ibu semoga Allah selalu menjagamu, melindungimu dari marabahaya yang dibuat setan maupun manusia di darat, laut, dan udara.
Semoga Allah mencintaimu sehingga Dia SWT tidak tega memasukkanmu ke nerakaNya. Aamiin.
Setiap yang kita lakukan biarlah jujur karena kejujuran itu terlalu penting dalam sebuah kehidupan. (Anonim)
Pada pertengahan Agustus lalu, seorang korban Lumpur Lapindo mengembalikan kelebihan uang pengganti sebesar Rp.429 juta. Berdasarkan perjanjian, pada pembayaran pertama ia hanya akan menerima Rp.56 juta yaitu 20% dari total Rp.285 juta yang berhak ia terima. Namun ia menerima transfer sekitar Rp.486 juta. Laki-laki berhati mulia yang bernama Waras (56) tersebut kemudian lapor dan mengembalikan sebagian besar kelebihannya.
Hal ini tentu saja dianggap sebagai peristiwa langka. Betapa tidak, Waras, bukan seorang kaya raya yang berlebih sehingga merasa tidak perlu uang. Anak dan menantunya saja pengangguran karena pabrik tempat bekerjanya terendam lumpur. Ia juga bukan seseorang berpendidikan tinggi. Ia hanya seorang petani biasa yang memegang prinsip kejujuran.
Dalam wawancaranya di sebuah televisi ia menyatakan alasan yang mendasarinya mengembalikan uang ratusan juta itu. Dalam bahasa Jawa—karena tak mampu berbicara dalam bahasa Indonesia—ia menjawab, “Kulo wedi dosa pak, niku sanes hak kulo!” Yang artinya, “Saya takut dosa pak, itu bukan hak saya!”
Cerita ini bukan fiksi, ia-lah nyata. Subhanallah, Allah masih berbaik hati mengirimkan “kekasihNya” ke bumi Indonesia. Ah, tidak pada tempatnya saya mengajari kalian semua tentang kejujuran. Biarlah kalian—yang masih mempunyai hati, tidak sekedar mempunyai akal—mengambil pelajaran dari kisah Bapak Waras. Kisah yang di tuturkan oleh Ary Ginanjar Agustian dalam bukunya yang berjudul “Bangkit dengan 7 Budi Utama” terbitan ARGA Publishing. (Dapatkan buku-buku ESQ 165 hanya di QU2 BUKU, distributor resmi ARGA Publishing. Hehehe… Promosi boleh doonk… J QU2 BUKU alamatnya di Jalan K. H. M. Usman Beji Kukusan Depok, No. Telp-nya: 021 7025 666 9)
Do’aku : “Ya Allah, karuniakan kejujuran kepadaku. Sehingga hidupku menjadi tenang. Ya Allah, berikan ke-istiqomah-an kepadaku untuk jujur senantiasa. Ya Allah, berikan teman-teman yang baik yang juga selalu belajar untuk jujur, sehingga kami saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Ya Allah, kabulkanlah. Yaa Muqollibal qulub…, hadapkanlah hati kami senantiasa kepada agamaMu yang hanif. Aamiin. Ya Allah, semoga Kau berbaik hati sehingga para pemimpin negeri ini memperhatikan korban Lumpur, korban banjir, korban gempa, dan korban-korban lainnya. Siapapun yang bertanggungjawab terhadap Lumpur Lapindo, semoga hatinya diberi setetes kasihMu sehingga mereka mau peduli dan memberikan bantuan nyata yang cepat sehingga saudara-saudaraku di Jawa Timur sana tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Juga saudara-saudaraku di belahan bumi manapun, rengkuhlah mereka dalam kasih dan perlindunganMu. Aamiin…”
Sepandai-pandainya kau membungkus bangkai, pasti akan tercium juga. Kau tentu tahu itu, atau kalau itu terlalu kasar yang satu ini mungkin, “Sepandai-pandainya Tupai melompat pasti akan jatuh juga.”
Aku hanya ingin berbicara dari hati ke hati sebagai sesama teman. Bukankah aku dulu sering bercerita kepadamu tentangnya, tentang kelakuan buruknya, tentang perkataanya yang menyakitkan, dan tentang hal baik lainnya yang tentunya sedikit sekali kutemui pada dirinya.
Sahabatku—semoga Allah masih melindungiMu, sekarang, hari ini dan mungkin untuk beberapa waktu ke depan kau dekat dengannya, yakinlah kalau kau jujur dan cerita kepadaku apa yang sebenarnya terjadi, aku tidak akan sakit hati padamu atau marah. Justru karena kau tidak bercerita lah membuatku berprasangka buruk padamu. Tidak ada setitik pun rasa cemburu padamu ataupun padanya, hanya ada kekecewaan kepadamu dan beribu pertanyaan mengapa.
Semoga kau mengerti…
Karena aku bukanlah seperti kebanyakan teman perempuan yang kau kenal. Padahal yang kuharap adalah kau yang membimbingku, kau yang telah bergelut enam tahun lamanya menimba ilmu dari ustadz dan ustadzah berkompeten.
Sahabatku, kau paham betul apa artinya “ghadhul bashar”, kau paham sekali dengan yang namanya “menjaga hati” tapi mengapa…???
Sahabatku, aku telah mengungkapkan segalanya kepadamu mengapa aku dulu dekat dengannya, karena fikirku pendek bahwa mengubah seseorang menjadi baik adalah pekerjaan mudah. Dan semakin hari kumengerti, bahwa kebaikan hati, kelembutan, keshalihan, kecerdasan yang bisa menawan hati ini bukanlah semata keindahan fisik, tapi tidak menafikkan bahwa yang “menyejukkan pandangan” juga masuk kriteria J. Kau tahu aku. Aku tahu kau. Tapi mengapa…?? Jujurlah, jangan buat aku semakin lama berprasangka buruk kepadamu.