Thursday, May 06, 2010
1:51:35 PM
IBU
Bahkan dalam mood yang sedang tidak ingin menulis. Tapi harus. Karena cuma ini satu-satunya pelampiasanku sebagai seorang introvert. Manusia memang makhluk social, bahkan yang mengaku tidak suka keramaian pun membutuhkan teman walaupun seorang. Bukan ini, yang ingin aku bicarakan, hari Ahad kemarin aku baru menyelesaikan novel yang baru aku baca, judulnya PUKAT; Serial Anak-anak Mamak. Novel yang bagus, bahkan kelenjar air mata ini pun tak terbendung ingin menumpahkan apa yang ada di dalamnya. Hmm…, aku ini termasuk orang yang cengeng!
Bukan novel itu yang ingin aku bahas, aku hanya ingin berbagi apa yang ada di salah satu paragraf novel tersebut.
“Jangan pernah membenci ibu kau, jangan sekali-kali…karena jika kau tau sedikit saja apa yang telah ia lakukan demi kalian, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian.” Ini perkataan Bapak yang bijak kepada anak-anaknya Eliana, Pukat, Burlian, dan Amelia.
I was wondering, is that true? How about…, ibu-ibu yang tega membungkus bayi merahnya di dalam kardus lantas membuangnya ke gunungan sampah? Ibu-ibu yang rela mengaborsi anaknya dengan memasukkan “mixer” versi dokter lantas melumatkan janin tersebut hingga hancur terus di keluarkan hasil “blender-an”janin tersebut? Atau ibu-ibu yang rela anaknya tumbuh tanpa figure seorang ayah? Seperti artis yang baru-baru ini melahirkan seorang bayi lalu di jadikan DUTA ANTI ABORSI??? Berarti kalo punya anak di luar nikah lantas tidak di aborsi, tidak apa-apa? Bukannya itu malah “menghalalkan” free sex?
Ah, aku bukan mau berkomentar soal itu. Walau ada sedikit, gatal rasanya mulut ini. J
Ya Allah, ampuni lubang pembuangan terkotor di dunia ini karena mengeluarkan gunjingan.
Mamak—di novel PUKAT—adalah sosok ibu sempurna, aku tidak berbicara ideal karena tidak ada yang ideal, kalo sempurna masih mungkin. (Tolong, jangan di bantah.). Ibu, Bunda, Mamak, Mama, Mami, Umi, Bu’e, apapun sebutan Anda bagi yang telah melahirkan kami—sebagai anak-anak Anda. Mungkin hanya aku—kalo yang lain gak mau mengaku atau gengsi mungkin—yang aku akui sering bermasalah dengan wanita yang melahirkanku. Aku kayanya setuju, oaring-orang yang sering punya masalah dengan orang lain tuh bukan karena perbedaan yang ada di antara mereka tapi persamaan-lah yang sering membuat masalah. Sama-sama keras kepala, sama-sama gengsi, sama-sama gak mau ngalah, sama-sama susah mengungkapkan rasa sayangnya, sama-sama canggung, sama-sama cengeng, sama-sama sama-sama, de el el.
Mungkin itu yang aku rasakan antara aku dengan ibuku, gak tau kalo kalian dengan ibu kalian.
Oh, IBU… Seandainya aku bisa dan kuat menanggung beban yang ada di pundakmu akan kupindahkan semua beban itu, sayangnya aku tidak bisa dan tidak kuat.... Seandainya, kau mau berbagi betapa pahit gula yang kau minum biarlah aku yang menengguknya, sayangnya—aku yakin—kau tak akan membiarkan anakmu keracunan.
IBU, jika kau sebutkan harga yang harus dibayar untuk air susu-mu, yang paling berharga yang kupunya—nyawa—ini bahkan tak bisa untuk membayar semua pengorbananmu.
IBU, kau benar-benar pahlawan tanpa tanda jasa untuk anak-anak sepertiku, seperti Pukat, Burlian, Eliana, Amelia, seperti yang lain yang mempunyai seorang ibu NORMAL. Tapi, aku sungguh tak tahu apa definisimu untuk anak-anak yang di buang olehmu, bagi bayi merah yang telantarkan, bagi remaja yang tidak mengenal ayahnya, selau bertanya apakah ada mata air seperti di film Kera Sakti yang jika meminumnya maka bisa hamil tanpa bantuan sperma, atau untuk anak gadis yang telah di jual olehmu kepada Tuan-tuan dari Arab sana.
Ibu yang hebat, yang rela waktunya di habiskan untuk menyuapi kami, membersihkan kotoran kami, membasuh pipis kami, menjemur kasur kami karena ompol, mencuci bekas muntah kami, mengajari kami untuk salim setiap bertemu dengan bapak, mbah, pakde, bude, om, bulek, guru. Semoga Allah memberkahimu di sisa umurmu. Semoga anak-anak yang telah kau lahirkan bisa berbakti kepadamu walupun semua bakti anak kepadamu tidak bisa memabalas apa-apa yang telah kau korbankan. Semoga harapan-harapanmu terhadap anak-anakmu dapat terkabul, harapan agar mereka sukses, agar mereka mempunyai keluarga yang bahagia serta penuh keberkahan dan keridhoan Allah, agar mereka mempunyai suami/istri yang mencintai mereka apa adanya. Semoga Allah mengizinkanmu beribadah di Tanah Suci-Nya entah melalui anak-anakmu atau mungkin Allah mempunyai jalan lain. Kita tak pernah tahu, ya kan Bu?
Semoga Allah memasukkanmu ke tamanNya yang indah sehingga kau bisa bertemu dengan Maryam binti Imran, dengan Khadijah r.a., dengan si cantik ‘Aisyah r.a. juga dengan kekasihNya, Muhammad SAW.
Ibu semoga Allah selalu menjagamu, melindungimu dari marabahaya yang dibuat setan maupun manusia di darat, laut, dan udara.
Semoga Allah mencintaimu sehingga Dia SWT tidak tega memasukkanmu ke nerakaNya. Aamiin.
---bukan aku yang sesungguhnya---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar