Jujur = Waras
Setiap yang kita lakukan biarlah jujur karena kejujuran itu terlalu penting dalam sebuah kehidupan. (Anonim)
Pada pertengahan Agustus lalu, seorang korban Lumpur Lapindo mengembalikan kelebihan uang pengganti sebesar Rp.429 juta. Berdasarkan perjanjian, pada pembayaran pertama ia hanya akan menerima Rp.56 juta yaitu 20% dari total Rp.285 juta yang berhak ia terima. Namun ia menerima transfer sekitar Rp.486 juta. Laki-laki berhati mulia yang bernama Waras (56) tersebut kemudian lapor dan mengembalikan sebagian besar kelebihannya.
Hal ini tentu saja dianggap sebagai peristiwa langka. Betapa tidak, Waras, bukan seorang kaya raya yang berlebih sehingga merasa tidak perlu uang. Anak dan menantunya saja pengangguran karena pabrik tempat bekerjanya terendam lumpur. Ia juga bukan seseorang berpendidikan tinggi. Ia hanya seorang petani biasa yang memegang prinsip kejujuran.
Dalam wawancaranya di sebuah televisi ia menyatakan alasan yang mendasarinya mengembalikan uang ratusan juta itu. Dalam bahasa Jawa—karena tak mampu berbicara dalam bahasa Indonesia—ia menjawab, “Kulo wedi dosa pak, niku sanes hak kulo!” Yang artinya, “Saya takut dosa pak, itu bukan hak saya!”
Cerita ini bukan fiksi, ia-lah nyata. Subhanallah, Allah masih berbaik hati mengirimkan “kekasihNya” ke bumi Indonesia. Ah, tidak pada tempatnya saya mengajari kalian semua tentang kejujuran. Biarlah kalian—yang masih mempunyai hati, tidak sekedar mempunyai akal—mengambil pelajaran dari kisah Bapak Waras. Kisah yang di tuturkan oleh Ary Ginanjar Agustian dalam bukunya yang berjudul “Bangkit dengan 7 Budi Utama” terbitan ARGA Publishing. (Dapatkan buku-buku ESQ 165 hanya di QU2 BUKU, distributor resmi ARGA Publishing. Hehehe… Promosi boleh doonk… J QU2 BUKU alamatnya di Jalan K. H. M. Usman Beji Kukusan Depok, No. Telp-nya: 021 7025 666 9)
Do’aku : “Ya Allah, karuniakan kejujuran kepadaku. Sehingga hidupku menjadi tenang. Ya Allah, berikan ke-istiqomah-an kepadaku untuk jujur senantiasa. Ya Allah, berikan teman-teman yang baik yang juga selalu belajar untuk jujur, sehingga kami saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Ya Allah, kabulkanlah. Yaa Muqollibal qulub…, hadapkanlah hati kami senantiasa kepada agamaMu yang hanif. Aamiin. Ya Allah, semoga Kau berbaik hati sehingga para pemimpin negeri ini memperhatikan korban Lumpur, korban banjir, korban gempa, dan korban-korban lainnya. Siapapun yang bertanggungjawab terhadap Lumpur Lapindo, semoga hatinya diberi setetes kasihMu sehingga mereka mau peduli dan memberikan bantuan nyata yang cepat sehingga saudara-saudaraku di Jawa Timur sana tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Juga saudara-saudaraku di belahan bumi manapun, rengkuhlah mereka dalam kasih dan perlindunganMu. Aamiin…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar